Senin, 18 November 2019

Curcol

"Kerjaan lu santai amat sih, kayaknya enak banget"

Ujar seorang temen saat kita lagi ketemuan. Aku cuma bisa ketawa. Yang dia liat selama ini di Sosial Media hanya kesenangan doang. Iyalah, aku paling males posting soal kesedihan di sosmed. Yang aku postingan yang seneng-seneng doang, padahal saat aku lagi posting foto ketawa sama temen-temen di IG, disaat itu aku lagi down, lagi puyeng sama kerjaan. Dua minggu lalu tipes aku kumat, Pilek plus demam. Saat itu, rasanya aku pengen banget ngambil cuti. Pengen istirahat di Kosan. Tapi apa daya, saat itu ada meeting dadakan seminggu berturut-turut, di tambah pekerjaan dadakan yang normalnya harus aku kerjaan selama berminggu-minggu, harus bisa aku kerjakan dalam waktu sehari.

Bayangin aja, dikala lagi sakit harus mengerjakan pekerjaan yang bener-bener melelahkan. Aku down, lelah dan letih. Tapi saat itu juga, malamnya pas aku lagi lembur, temen-temen dari divisi lain datang ke mejaku. Ngajak bercanda dan ngobrol lalu seperti biasa berahkir dengan sesi foto-foto lucu. Di foto sih senyum lepas tanpa beban, meskipun aslinya lagi berbeban berat.

Aku stress tapi diam. Di IG aku posting foto ketawa dengan senyum lebar tanpa beban. Orang-orang yang melihat pasti mikir 'wahh have fun mulu nih kerjanya'. Mereka enggak tau aja, setelah foto terus ketawa sama temen, aku harus kerja lembur dan pulang jam 10 malam setiap harinya. Yang mereka liat cuma foto aku senyum doang. Aku sedih, kecewa & marah kan enggak pernah di posting. Itulah hidup. Beberapa orang lebih milih untuk menyimpan hal-hal sedih secara pribadi. Aku mah lebih suka posting yang bahagia aja. Biarpun kadang hidup aku belum positif amat, masih banyak dosanya, setidaknya aku pengen kalo orang liat di sosmed aku, mereka bisa ambil hikmat yang positif. Biar kalo ortu liat, mereka bisa tenang karena anaknya di perantauan selalu bahagia(di sosmed).

Dulu aku suka sekali membandingkan kehidupanku dengan kehidupan teman-temanku. Liat di sosmed, kok kayaknya temen aku lebih bahagia ya hidupnya daripada aku. Ada yang karirnya sudah menanjak, sedangkan aku masih stuck di sini. Ada yang mulai happy dengan percintaannya, sedangkan aku masih belum bisa membuka hati. Dulu aku selalu merasa kurang. Kurang ini dan kurang itu. Aku kurang bersyukur sama berkat-berkat yang sudah Tuhan berikan. Sampai ahkirnya, Ibuku bilang kalau aku ini kurang bersyukur. Kata Ibuku jalan hidup orang itu beda-beda, kalo memang aku merasa stuck, itu memang karena rencana Tuhan. Aku sudah berusaha mencoba yang terbaik, kalo memang gagal, itu karena dibalik semuanya ada rencana indah Tuhan. 

Lambat laun, aku mencoba belajar lebih bersyukur. Aku stop mengeluh. Selain itu, aku juga coba rutin kasih persepuluhan. Dulu sih, kalo ngasih persepuluhan selalu bolong-bolong. Aku sampai tanya ke Pendeta, sebenarnya Idealnya persepuluhan itu konsepnya gimana sih. Selain itu, aku juga sering sharing sama temen-temen yang seiman. Aku fikir kita harus punya banyak teman, bergaul sama siapa aja tapi untuk sharing & pendalaman iman, harus sama orang yang lebih baik dari kita baik dari sikap maupun prilaku. 

Sekarang aku belajar untuk lebih banyak bersyukur dan mengurangi mengeluh. Aku sering liat temen-temen yang ngeluh di sosmed. Aku ngerasa sih awalnya wajar sebagai manusia kita ngeluh, tapi lama-lama kok toxic ya. Sedikit menganggu. Di situ aku belajar bahwa kadang tanpa sadar kita sering terpengaruh sama lingkungan di sekitar kita. Makanya aku selalu coba posting yang baik-baik aja, yang negatif sebisa mungkin di keep sendiri aja. Meskipun kadang kalo lagi stress, suka posting quotes, tapi setidaknya sekarang aku belajar untuk tidak mengeluh di sosmed. 

Minggu, 13 Oktober 2019

Hm..

Cuan..
Iyaa Rin ?
kenapa kamu pengen nikah muda?
Aku pengen bahagia, Rin
Emangnya sekarang kamu enggak bahagia?

Cuan terdiam, lalu tersenyum. Selalu saja dia tersenyum. Dimarahi dia tersenyum, di bully pun dia tersenyum. seakan-akan tak ada kesedihan dalam rongga hidupnya. Aku tahu dalam senyumnya, ada perih dan juga pedih yang tersimpan. Ahh..rasanya ingin kukatakan padanya jangan mengantungkan kebahagiaan kepada orang lain. Jangan tunggu nanti untuk bahagia. Bahagialah dari sekarang, bahagia dulu dengan kondisimu yang sekarang, bahagia dulu dengan dirimu yang sekarang. Lalu jika kamu sudah bahagia, maka carilah seseorang yang bisa diajak untuk bahagia bersama selamanya. Karena hidup itu, bukan hanya perkara bahagia saja. 

Selasa, 01 Maret 2016

Kembalikan tulang rusukku

Curahan hati sang istri

Dalam kepadatan jalanan kota Medan, lagu rohani 'bapa yang kekal' mengalun indah memenuhi ruangan mobilku. Supirku yang memiliki keyakinan yang berbeda denganku tampaknya turut ikut menikmati lagu ini. Aku duduk di belakang dengan kedua anakku yang tertidur pulas dalam pangkuanku. Perlahan kupejamkan mataku meresapi kata-kata dalam lagu ini. Aku terhanyut mengingat tulang rusukku. Masihkah aku kuat menghadapi persoalan ini ? Kutatap kedua anakku yang terlihat nyenyak dalam tidurnya. Sanggupkah mereka menerima perpisahan ini Tuhan ? Membayangkan mengurus mereka tanpa suami membuatku lemah. Aku tidak kuat Bapa, Persoalan hidupku terlalu berat. Kenapa harus rumah rumah tanggaku yang diguncang ?

Hari ini aku baru saja menjemput anak-anakku dari sekolahnya. Mereka bertanya apakah ayahnya sudah pulang ? Aku berbohong. Kukatakan kepada mereka bahwa ayahnya masih sibuk mengurus bisnisnya. Sejujurnya aku tak tahu dimana sekarang dia berada. Sudah dua hari dia tidak lagi pulang ke rumah. Aku sudah di depan rumahku. Dari dalam mobil kutatap istana megahku. Untuk apa aku berada dalam kemegahan ini jika tidak ada kamu di dalamnya ? Pelan-pelan ku bangunkan kedua buah hatiku dan meminta mereka agar melanjutkan tidurnya di dalam kamar. Aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan hampa. Bertanya di dalam hati kapankah dia akan pulang ? Tidakkah dia merindukan anak-anaknya. Aku lelah, kubaringkan tubuhku di sofa ruang tamu rumahku. Aku tidak ingin tidur di dalam kamar, jika masuk ke sana maka aku akan teringat akan dirinya. Lebih baik jika aku tidur di sini saja. Aku tertidur hingga matahari pulang ke peraduannya. Secara perlahan telingaku mendengar deru suara mobil berhenti di depan rumah. 

Aku berteriak senang ahkirnya dia pulang juga. Aku bergegas masuk ke dalam kamar dan langsung menganti bajuku dengan daster kesukaanku. Kucuci mukaku dengan terburu-buru dan bergegas menuju dapur menyiapkan jus serta buah pepaya kesukaannya. Aku seperti gadis abg yang baru pertama kalinya jatuh cinta. Kulihat dia duduk di ruang tamu dengan muka yang tampak lelah. Dia menatapku dengan tatapan enggan. Aku segera memberikannya jus dan pepaya yang telah aku siapkan barusan. Dia menerimanya tanpa sudi melihatku. Dengan cepat dia meminum jus dan memakan pepaya dengan perlahan. Kutatap wajah tampannya dalam diam. Di usianya yang semakin matang, dia terlihat semakin dewasa dan tampan. Oh Tuhan, aku sangat mencintainya. Kulihat dia telah selesai menghabiskan sepiring pepaya dan segelas jusnya. Dia berjalan menaiki tangga dan memasuki kamar kedua putri kami. Terdengar teriakan gembira anak-anak dari luar. Mereka bahagia melihat papanya pulang. Pelan-pelan aku naik ke atas dan mengintip interaksi mereka dari balik pintu kamar putriku. Aku terhanyut melihat ketiganya. Kedua anakku dan suami, mereka adalah hidupku, rumahku dan nafasku. Dalam hati aku bertekat, sekuat apapun cobaan yang sekarang menerpa rumah tanggaku, Aku akan kuat. Bukankah Tuhan tidak pernah mencobai kita di luar batas kemampuan kita ? Tuhan tahu aku kuat dan akan kubuktikan. 

Perlahan aku turun lagi ke bawah dan membereskan tas suamiku. Tiba-tiba instingku sebagai istri menyala. Aku pernah melihat di dalam tasnya ada dua tiket pesawat ke lombok. Apa lagi yang akan kutemukan di tas suamiku kali ini ? Mungkinkah ada lagi bukti perselingkuhannya yang tertinggal di dalam tas ini ? Perlahan kubuka reseleting tasnya. Hanya ada berkas-berkas kerjanya. Dalam hati aku lega, mungkin kepergiannya selama dua hari ini memang urusan bisnis. Aku bergegas masuk ke dalam kamar dan kulihat baju kerjanya tergeletak di lantai. Dia sedang mandi rupanya. Perlahan kukumpulkan baju-baju kotornya dan kubawa ke bawah. Ketika hendak memasukan bajunya ke dalam mesin cuci, rasa penasaranku muncul lagi.  Kuraba kantong celana panjangnya dan tanganku menemukan beberapa uang kertas dan struk pembayaran yang tertinggal. Satu persatu kulihat struk belanja itu. Mataku tertohok menatap salah satu struk belanja yang ada. Kenapa struk belanja victoria's secret ada di dalam saku celana suamiku ? Bukankah ini brand khusus wanita. Aku terdiam sesaat. Aku menemukan satu bukti lagi. 

Dalam hati aku mencoba mensugesti diriku sendiri. Aku kuat, itu kalimat yang selalu kutekankan dalam otakku. Kemarin aku berlibur ke patayya untuk menenangkan pikiran dan otakku. Selama di sana, teman-temanku selalu memberikanku semangat untuk kembali merebut suamiku. Bukankah dia milikku ? Dia milikku yang sah di mata agama dan di mata Tuhan. Teman-temanku selalu memberikanku semangat untuk selalu kuat. Bukankah aku lebih cantik daripada perempuan itu ? Teman-temanku mengatakan bahwa kecantikanku lebih natural dan alisku juga asli. Kenapa aku harus kalah dengan perempuan beralis palsu seperti dia ? Kutekatkan dalam hati, Suamiku harus kembali. 

Bersambung....

Jumat, 26 Februari 2016

Tidakkah kamu lelah ?


Hari ini kamu mengajakku untuk bertemu. Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepadaku. Di sela-sela kegiatanku sebagai asisten penelitian di Kabanjahe, kusempatkan untuk datang ke Medan untuk menemuimu. Jarak kabanjahe - Medan yang hampir selama dua jam membuat tubuhku kelelahan. Aku berbaring di atas kasur king size milikmu. Nyenyak dan nyaman. Kamu bertanya mengapa aku tidak pulang dulu ke rumah nenekku. Kukatakan kepadamu bahwa aku ingin mendengarkan ceritamu sehingga aku langsung datang ke rumahmu. Kamu mengulurkan tanganmu sembari bertanya mana oleh-oleh dariku sepulang dari siantar. Aku tertawa. Aku ke sana pergi ke seminari bukan untuk jalan-jalan jadi aku tidak sempat membeli oleh-oleh. Kamu bertanya apakah di sana  banyak frater yang imut ? iya banyak sekali. Kamu berkata bahwa seharusnya aku membawakan satu frater imut sebagai oleh-oleh. Aku tertawa mendengar candaanmu. Bukankah kamu sudah punya satu pria imut yang memiliki segalanya ? Sembari membenamkan kepalaku di kasurmu, Aku memintamu untuk membelikanku hazelnut singnature chocolate. Kamu berkata bahwa aku adalah sahabat yang paling menyusahkan. Terima kasih, aku tau itu dan menyusahkanmu adalah salah satu hal yang menyenangkan bagiku. Dengan mengerutu kecil, kamu mengambil dompetmu dan memintaku untuk menunggumu di dalam kamar. 

Setelah kamu pergi, aku mengangkat kepalaku dan melihat sekeliling kamarmu. Di atas meja riasmu terlihat sekotak kondom yang sudah habis setengah. Bagaimana bisa kamu menjalankan hidup seperti ini dengan bahagia ? Kita berdua memiliki dunia yang bertolak belakang. Itulah mengapa persahabatan ini begitu indah. Aku dengan kehidupan yang selalu di kontrol oleh kakekku, bagaimana bisa aku bersahabat dengan kamu yang hidup dengan kebebasan yang keluar batas ? tentunya tak ada yang tau persahabatan kita kecuali Tuhan dan priamu. Bagaimana kabar priamu itu ? Pria yang membelikanmu hunian mewah ini dan segala kemewahan lainnya yang kamu punya. Aku teringat akan perkataan yang sering aku lontarkan kepadamu. Kubilang bahwa kamu beruntung dibelikan hunian di tempat ini. Kalo lapar atau ingin hang out, kamu tinggal turun ke bawah. Kamu tertawa dan berkata bahwa priamu tidak suka jika kamu sering sendirian ke bawah. Dia takut jika kamu di ganggu oleh pria-pria nakal lainnya. Pria yang posesif bukan ? Kamu kembali dengan dua cup minuman dan satu kotak donat kesuakaan kita berdua. Mukamu terlihat pucat dan ketakutan. Aku mendekat dan mengambil minuman serta donat dan meletakannya ke atas meja. Ada apa ? Aku bertanya. kamu menarik nafas dan menatapku dengan horor. Kenapa ? kenapa kamu terlihat pucat ?
 
 "Aku melihat istrinya di bawah"

Ucapanmu membuatku terdiam. Apa istrinya mengenalimu ? kamu katakan tidak. Aku lega. Bukankah seharusnya kamu juga lega ? kamu mengelengkan kepalamu. Kamu takut teramat takut. Aku mencoba memaklumi keadaanmu. Sudah berkali-kali kuperingatkan kepadamu. Jalan yang kamu pilih ini salah. Tiba-tiba kamu menangis. Bertanya kepadaku bagaimana caranya meninggalkan cinta yang sudah menjadi bagian dari hidupmu ? aku terdiam. Sesungguhnya aku tak tahu harus menjawab apa. Untuk menenangkanmu aku berkata bahwa kamu tidak salah jika mencintai dirinya. Kamu berhak untuk mencintainya. Hanya saja pria yang kamu cintai sudah ada yang memiliki. Tidakkah kamu kasihan dengan kedua anaknya yang masih kecil ? Pertanyaanku itu membuatmu terlihat sedih. Kamu katakan bahwa ada rasa bersalah yang selalu menghampirimu ketika melihat foto anaknya di dalam ponsel pria itu. Apa yang harus kulakukan untuk membantumu ? istrinya mulai curiga bahwa sang suami bermain api di belakangnya. Bukankah sudah kuperingatkan kepadamu ? ada resiko yang harus kamu tanggung. Kamu terdiam lalu mengambil kopi pahit dari atas meja. Dengan pelan, kamu meminum kopi pahit yang barusan kamu beli. Hidup sudah pahit, kenapa kamu minum kopi pahit ? seharusnya kamu minum green tea latte atau  singnature chocolate seperti minumanku. Kamu tertawa mendengar guyonanku. Senang melihatmu tertawa di sela-sela sedihmu. Aku mengambil donat dan mulai memakannya.  

"Aku enggak bisa melepaskannya. Aku terlalu mencintainya"

 Aku terhenti dari aktivitas mengunyah donat. Aku tertegun mendengar ucapanmu. Fix..kamu tak akan mampu melepaskannya. Ucapanmu barusan membuatku teringat akan sosok pria kesayanganmu itu. Dia manis teramat manis. Muda, tampan dan mapan. Bagaimana bisa kamu melepaskan pria semanis dia ? Lagi-lagi aku teringat pertemuanku dengan priamu. Kala itu  kamu bersikeras bahwa aku sebagi satu-satunya sahabatmu harus mengenal sosok priamu. Aku menolak dengan keras. Secara frontal kukatakan kepadamu bahwa aku jijik berjumpa dengan om-om hidung belang. Kamu tertawa terbahak-bahak. Bagaimana jika nanti sewaktu bertemu, dia membawa temannya ? bisa-bisa aku di kenalkan juga dengan om-om genit. Dengan blak-blakkan aku melontarkan berbagai macam penolakan. Aku anak Tuhan yang berteman dengan anak iblis. kamu sebagai iblis bisakah tidak mengodaku ? Kamu berkata bahwa aku akan menarik ucapanku jika aku sudah bertemu dengan priamu. 

Kamu membujukku berkali-kali. Ceritamu tentang pria itu lambat laun membuatku penasaran. Kuatatap lekat-lekat wajah anggunmu. Kamu cantik dan sangat elegan. Seperti apakah sosok priamu itu ? Sesosok pria yang mampu merebut hati gadis anggun sepertimu. Dengan terpaksa, aku mengiyakan ajakanmu. Di parkiran mall Sun Plaza Medan pertama kalinya kulihat dia. Kamu memintaku agar kita menunggunya di depan parkiran saja. Di dekat J.co kita duduk menunggunya. Senyuman terkembang di wajahmu ketika melihat mobil SUV mewah memasuki pelataran parkiran. Mobil tersebut berhenti dan dari dalam turun sosok pria muda, tinggi dan tampan yang memakai kemeja yang di gulung sampai ke siku. Aku menarik nafas melihat sosok pria itu. Apakah dia priamu itu ? Kamu berkata bahwa dia telah datang. Kamu berdiri dari dudukmu dan terlihat ekpresi bahagia dari wajahmu ketika pria itu membuka pintu kaca dan masuk menghampirimu. Dia bertanya apakah kamu sudah lama menunggunya di sini. Aku terdiam seperti orang bodoh. Betulkah dia sudah menikah ? Dia terlihat lebih muda dari umurnya. Kamu langsung mengenalkan diriku kepadanya. Dia tersenyum, manis sekali. Pria ini adalah Daniel henney versi Indonesia. Pantas saja sahabatku ini tergila-gila kepadanya. Dia teramat tampan plus mapan. Bukankah perpaduan itu yang di cari wanita dari seorang pria ? dan pria ini memiliki semua perpaduan itu. Dua kancing teratas kemejanya sudah di buka. Dia adalah rebutan semua wanita. Seharusnya aku bertanya kepada pria ini, apakah ada temannya yang memiliki kharisma yang sama dengannya yang bisa di kenalkan kepadaku ? tentunya pria itu harus masih lajang. 

Dengan lembut dia mengajak kita untuk makan siang. Dia mengengam tanganmu ketika hendak memasuki lift. Di dalam lift berkali-kali dia bertanya apakah kamu lelah atau tidak. Secara tiba-tiba dia bertanya, apa rencanaku selanjutnya setelah lulus. Aku terkejut mendengar pertanyaan pria ini. Pasti sahabatku itu telah bercerita kepada prianya ini. Aku katakan bahwa aku belum tau hendak kemana. Itu adalah kode bahwa aku tidak ingin di tanya lagi. Priamu tersenyum sembari berkata semoga sukses di kehidupan pekerjaanku nantinya. Manis sekali. Kulirik gengaman tangan keduanya. Tidakkah dia takut jika teman-temannya melihat mereka sedekat ini ? dia beralasan bahwa istrinya sedang berlibur bersama dengan teman-temannya ke pattaya. Bagaimana jika ada keluarga atau teman istrinya yang melihat kedekatan mereka ? Dia bahkan terlihat tidak peduli. Seperti apakah rumah tangga mereka sehingga pria ini begitu berani mengandeng wanita lain yang bukan istrinya ?

Aku tertegun melihat puluhan mata wanita di dalam mall ini yang sedari tadi hanya tertuju kepada pria ini. Kharismanya begitu kuat. Dia terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa. Lalu dia mengajak kita untuk makan di salah satu resto dimsun di mall ini. Dalam hati aku berteriak senang, sudah lama aku tidak makan pancake durian. Welcome dimsum-dimsum. Aku tertegun lagi melihat ekpresi malu-malu waiter yang melayani kami. Sudah bisa di tebak, waiter ini pasti terpesona juga dengan pria yang duduk di depanku. Kudengar pria ini memesan udon. Bukankah itu makanan kesukaan kamu ? Kulirik sahabatku yang tampak tersenyum menatapku dengan mata yang berbinar-binar. Kamu terlihat bahagia, sobat. 

Kutatap dua insan yang sedang di mabuk cinta yang duduk di depanku. Ntah mengapa melihat interaksi mereka lebih menarik dibandingkan dimsum-simsun yang berjejer di depan mataku. Pria tampan dan wanita cantik. Perpaduan yang sangat tepat. Betapa beruntungnya wanita yang menjadi istri pria ini. Batinku bertanya : wanita yang beruntung atau wanita yang malang ? suaminya tampan tetapi berselingkuh. Selesai makan, pria itu berpamitan karena harus bertemu dengan rekan kerjanya. Sebelum pergi, dia meletakan kartu kredit gold di atas meja dan memberikan satu kecupan manis di tanganmu. Apakah dia juga semanis itu memperlakukan istrinya di rumah ?  

"ayuuk shopiiing

Kamu tersenyum sembari menunjukan kepadaku kartu kredit gold yang barusan saja diberikan oleh priamu. Mulai dari mango, h&m, Gaudi hingga guess kini sudah ada dalam gengaman tanganmu. Aku bisa memaklumi kegilaanmu di dalam berbelanja. Pria itu yang merubahmu menjadi manusia hedonisme. Kamu bilang kepadaku bahwa kamu harus lebih mempesona daripada istrinya. Tak perlu barang branded itu melekat pada tubuhmu, tanpa itu semua pun kamu sudah cantik dari lahirnya. Sembari berjalan mengelilingi mall, kamu bercerita bahwa kalian berencana untuk berlibur ke Bali. Otakku tiba-tiba menjadi kotor teringat akan kejadian tahun lalu, ketika tanpa sengaja aku melihat foto berbikini kamu dan priamu di atas tempat tidur. Berani sekali kamu mengabadikan moment itu kedalam ponsel. Kamu tertawa dan memintaku untuk memilihkanmu lingerie yang cocok untuk liburan nanti. Kamu berjanji akan memberikanku oleh-oleh foto yang lebih hot dari yang kemarin aku lihat. Aku mengangkat bibirku tanda pura-pura jijik. Aku bercanda dengan mengatakan bahwa aku ingin video bukan foto, lalu kamu pun tertawa. Kamu bilang aku masih kanak-kanak, belum pantas untuk menonton seperti itu. Usiaku sudah 23 tahun, apakah aku harus menunggu berumur 27 sepertimu baru kamu anggap dewasa ? Kamu berkata bahwa usiaku memang 23 tahun tetapi gayaku masih seperti anak sma. Apakah aku harus mengunakan heels sepertimu agar terlihat dewasa ? Kamu mengelus pelan kepalaku. Sifat penyayangmu mengingatkanku kepada ibu dan bi udaku.
 

Sepulangnya dari liburan kamu terlihat begitu ceria. Senyum manismu selalu tersungging di wajah cantikmu. Sayangnya keceriaanmu hanya bertahan sementara. Dua bulan setelah liburan, kamu terlihat begitu was-was. Istrinya mulai curiga lagi. Wajar saja, insting seorang istri sangatlah kuat. Hampir 4 tahun kalian menjalin hubungan terlarang ini, pada ahkirnya identitas kamu akan terkuak juga. Bagaimana bisa istrinya tidak curiga, jika hampir 4 tahun ini pria itu lebih banyak menghabiskan waktu di luar dari pada di rumah. Lagi..lagi..kamu meminta pendapatku. Pendapat gadis kecil yang berusia tiga tahun di bawahmu. Apa yang harus kusarankan kepadamu ? Saranku selalu sama seperti kemarin. Tinggalkan dia jika ingin masalahmu selesai. Biarkan dia hidup tenang dengan anak dan istrinya. Pergilah dari hidupnya dan bangunlah kehidupan baru tanpa dia di dalamnya. Bukankah masih banyak pria yang tergila-gila padamu ? Kamu menjawab dengan mengelengkan kepalamu. Sudah kutebak, akan sulit bagimu untuk menjauh dari hidupnya. Tidakkah telingamu lelah mendengar gosip-gosip yang beredar ? Teman kantormu menjulukimu wanita simpanan, perusak rumah tangga orang dan wanita liar. Tidakkah kamu ingin hidup tenang ?