Senin, 18 November 2019

Curcol

"Kerjaan lu santai amat sih, kayaknya enak banget"

Ujar seorang temen saat kita lagi ketemuan. Aku cuma bisa ketawa. Yang dia liat selama ini di Sosial Media hanya kesenangan doang. Iyalah, aku paling males posting soal kesedihan di sosmed. Yang aku postingan yang seneng-seneng doang, padahal saat aku lagi posting foto ketawa sama temen-temen di IG, disaat itu aku lagi down, lagi puyeng sama kerjaan. Dua minggu lalu tipes aku kumat, Pilek plus demam. Saat itu, rasanya aku pengen banget ngambil cuti. Pengen istirahat di Kosan. Tapi apa daya, saat itu ada meeting dadakan seminggu berturut-turut, di tambah pekerjaan dadakan yang normalnya harus aku kerjaan selama berminggu-minggu, harus bisa aku kerjakan dalam waktu sehari.

Bayangin aja, dikala lagi sakit harus mengerjakan pekerjaan yang bener-bener melelahkan. Aku down, lelah dan letih. Tapi saat itu juga, malamnya pas aku lagi lembur, temen-temen dari divisi lain datang ke mejaku. Ngajak bercanda dan ngobrol lalu seperti biasa berahkir dengan sesi foto-foto lucu. Di foto sih senyum lepas tanpa beban, meskipun aslinya lagi berbeban berat.

Aku stress tapi diam. Di IG aku posting foto ketawa dengan senyum lebar tanpa beban. Orang-orang yang melihat pasti mikir 'wahh have fun mulu nih kerjanya'. Mereka enggak tau aja, setelah foto terus ketawa sama temen, aku harus kerja lembur dan pulang jam 10 malam setiap harinya. Yang mereka liat cuma foto aku senyum doang. Aku sedih, kecewa & marah kan enggak pernah di posting. Itulah hidup. Beberapa orang lebih milih untuk menyimpan hal-hal sedih secara pribadi. Aku mah lebih suka posting yang bahagia aja. Biarpun kadang hidup aku belum positif amat, masih banyak dosanya, setidaknya aku pengen kalo orang liat di sosmed aku, mereka bisa ambil hikmat yang positif. Biar kalo ortu liat, mereka bisa tenang karena anaknya di perantauan selalu bahagia(di sosmed).

Dulu aku suka sekali membandingkan kehidupanku dengan kehidupan teman-temanku. Liat di sosmed, kok kayaknya temen aku lebih bahagia ya hidupnya daripada aku. Ada yang karirnya sudah menanjak, sedangkan aku masih stuck di sini. Ada yang mulai happy dengan percintaannya, sedangkan aku masih belum bisa membuka hati. Dulu aku selalu merasa kurang. Kurang ini dan kurang itu. Aku kurang bersyukur sama berkat-berkat yang sudah Tuhan berikan. Sampai ahkirnya, Ibuku bilang kalau aku ini kurang bersyukur. Kata Ibuku jalan hidup orang itu beda-beda, kalo memang aku merasa stuck, itu memang karena rencana Tuhan. Aku sudah berusaha mencoba yang terbaik, kalo memang gagal, itu karena dibalik semuanya ada rencana indah Tuhan. 

Lambat laun, aku mencoba belajar lebih bersyukur. Aku stop mengeluh. Selain itu, aku juga coba rutin kasih persepuluhan. Dulu sih, kalo ngasih persepuluhan selalu bolong-bolong. Aku sampai tanya ke Pendeta, sebenarnya Idealnya persepuluhan itu konsepnya gimana sih. Selain itu, aku juga sering sharing sama temen-temen yang seiman. Aku fikir kita harus punya banyak teman, bergaul sama siapa aja tapi untuk sharing & pendalaman iman, harus sama orang yang lebih baik dari kita baik dari sikap maupun prilaku. 

Sekarang aku belajar untuk lebih banyak bersyukur dan mengurangi mengeluh. Aku sering liat temen-temen yang ngeluh di sosmed. Aku ngerasa sih awalnya wajar sebagai manusia kita ngeluh, tapi lama-lama kok toxic ya. Sedikit menganggu. Di situ aku belajar bahwa kadang tanpa sadar kita sering terpengaruh sama lingkungan di sekitar kita. Makanya aku selalu coba posting yang baik-baik aja, yang negatif sebisa mungkin di keep sendiri aja. Meskipun kadang kalo lagi stress, suka posting quotes, tapi setidaknya sekarang aku belajar untuk tidak mengeluh di sosmed. 

Minggu, 13 Oktober 2019

Hm..

Cuan..
Iyaa Rin ?
kenapa kamu pengen nikah muda?
Aku pengen bahagia, Rin
Emangnya sekarang kamu enggak bahagia?

Cuan terdiam, lalu tersenyum. Selalu saja dia tersenyum. Dimarahi dia tersenyum, di bully pun dia tersenyum. seakan-akan tak ada kesedihan dalam rongga hidupnya. Aku tahu dalam senyumnya, ada perih dan juga pedih yang tersimpan. Ahh..rasanya ingin kukatakan padanya jangan mengantungkan kebahagiaan kepada orang lain. Jangan tunggu nanti untuk bahagia. Bahagialah dari sekarang, bahagia dulu dengan kondisimu yang sekarang, bahagia dulu dengan dirimu yang sekarang. Lalu jika kamu sudah bahagia, maka carilah seseorang yang bisa diajak untuk bahagia bersama selamanya. Karena hidup itu, bukan hanya perkara bahagia saja.