Selasa, 01 Maret 2016

Kembalikan tulang rusukku

Curahan hati sang istri

Dalam kepadatan jalanan kota Medan, lagu rohani 'bapa yang kekal' mengalun indah memenuhi ruangan mobilku. Supirku yang memiliki keyakinan yang berbeda denganku tampaknya turut ikut menikmati lagu ini. Aku duduk di belakang dengan kedua anakku yang tertidur pulas dalam pangkuanku. Perlahan kupejamkan mataku meresapi kata-kata dalam lagu ini. Aku terhanyut mengingat tulang rusukku. Masihkah aku kuat menghadapi persoalan ini ? Kutatap kedua anakku yang terlihat nyenyak dalam tidurnya. Sanggupkah mereka menerima perpisahan ini Tuhan ? Membayangkan mengurus mereka tanpa suami membuatku lemah. Aku tidak kuat Bapa, Persoalan hidupku terlalu berat. Kenapa harus rumah rumah tanggaku yang diguncang ?

Hari ini aku baru saja menjemput anak-anakku dari sekolahnya. Mereka bertanya apakah ayahnya sudah pulang ? Aku berbohong. Kukatakan kepada mereka bahwa ayahnya masih sibuk mengurus bisnisnya. Sejujurnya aku tak tahu dimana sekarang dia berada. Sudah dua hari dia tidak lagi pulang ke rumah. Aku sudah di depan rumahku. Dari dalam mobil kutatap istana megahku. Untuk apa aku berada dalam kemegahan ini jika tidak ada kamu di dalamnya ? Pelan-pelan ku bangunkan kedua buah hatiku dan meminta mereka agar melanjutkan tidurnya di dalam kamar. Aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan hampa. Bertanya di dalam hati kapankah dia akan pulang ? Tidakkah dia merindukan anak-anaknya. Aku lelah, kubaringkan tubuhku di sofa ruang tamu rumahku. Aku tidak ingin tidur di dalam kamar, jika masuk ke sana maka aku akan teringat akan dirinya. Lebih baik jika aku tidur di sini saja. Aku tertidur hingga matahari pulang ke peraduannya. Secara perlahan telingaku mendengar deru suara mobil berhenti di depan rumah. 

Aku berteriak senang ahkirnya dia pulang juga. Aku bergegas masuk ke dalam kamar dan langsung menganti bajuku dengan daster kesukaanku. Kucuci mukaku dengan terburu-buru dan bergegas menuju dapur menyiapkan jus serta buah pepaya kesukaannya. Aku seperti gadis abg yang baru pertama kalinya jatuh cinta. Kulihat dia duduk di ruang tamu dengan muka yang tampak lelah. Dia menatapku dengan tatapan enggan. Aku segera memberikannya jus dan pepaya yang telah aku siapkan barusan. Dia menerimanya tanpa sudi melihatku. Dengan cepat dia meminum jus dan memakan pepaya dengan perlahan. Kutatap wajah tampannya dalam diam. Di usianya yang semakin matang, dia terlihat semakin dewasa dan tampan. Oh Tuhan, aku sangat mencintainya. Kulihat dia telah selesai menghabiskan sepiring pepaya dan segelas jusnya. Dia berjalan menaiki tangga dan memasuki kamar kedua putri kami. Terdengar teriakan gembira anak-anak dari luar. Mereka bahagia melihat papanya pulang. Pelan-pelan aku naik ke atas dan mengintip interaksi mereka dari balik pintu kamar putriku. Aku terhanyut melihat ketiganya. Kedua anakku dan suami, mereka adalah hidupku, rumahku dan nafasku. Dalam hati aku bertekat, sekuat apapun cobaan yang sekarang menerpa rumah tanggaku, Aku akan kuat. Bukankah Tuhan tidak pernah mencobai kita di luar batas kemampuan kita ? Tuhan tahu aku kuat dan akan kubuktikan. 

Perlahan aku turun lagi ke bawah dan membereskan tas suamiku. Tiba-tiba instingku sebagai istri menyala. Aku pernah melihat di dalam tasnya ada dua tiket pesawat ke lombok. Apa lagi yang akan kutemukan di tas suamiku kali ini ? Mungkinkah ada lagi bukti perselingkuhannya yang tertinggal di dalam tas ini ? Perlahan kubuka reseleting tasnya. Hanya ada berkas-berkas kerjanya. Dalam hati aku lega, mungkin kepergiannya selama dua hari ini memang urusan bisnis. Aku bergegas masuk ke dalam kamar dan kulihat baju kerjanya tergeletak di lantai. Dia sedang mandi rupanya. Perlahan kukumpulkan baju-baju kotornya dan kubawa ke bawah. Ketika hendak memasukan bajunya ke dalam mesin cuci, rasa penasaranku muncul lagi.  Kuraba kantong celana panjangnya dan tanganku menemukan beberapa uang kertas dan struk pembayaran yang tertinggal. Satu persatu kulihat struk belanja itu. Mataku tertohok menatap salah satu struk belanja yang ada. Kenapa struk belanja victoria's secret ada di dalam saku celana suamiku ? Bukankah ini brand khusus wanita. Aku terdiam sesaat. Aku menemukan satu bukti lagi. 

Dalam hati aku mencoba mensugesti diriku sendiri. Aku kuat, itu kalimat yang selalu kutekankan dalam otakku. Kemarin aku berlibur ke patayya untuk menenangkan pikiran dan otakku. Selama di sana, teman-temanku selalu memberikanku semangat untuk kembali merebut suamiku. Bukankah dia milikku ? Dia milikku yang sah di mata agama dan di mata Tuhan. Teman-temanku selalu memberikanku semangat untuk selalu kuat. Bukankah aku lebih cantik daripada perempuan itu ? Teman-temanku mengatakan bahwa kecantikanku lebih natural dan alisku juga asli. Kenapa aku harus kalah dengan perempuan beralis palsu seperti dia ? Kutekatkan dalam hati, Suamiku harus kembali. 

Bersambung....

2 komentar:

  1. Lanjuutttt...����❤️❤️❤️❤️

    BalasHapus
  2. Yaampun, sedih ����

    BalasHapus